Sistem Kesehatan Global


Sistem kesehatan global merangkum seluruh kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan di berbagai negara. Negara selalu diperhadapkan dengan masalah kesehatan yang terus berkembang dan membutuhkan respon penanganan cepat dan efektif dari berbagai unsur kesehatan. Kekuatan sistem kesehatan yang dibangun oleh negara dapat diketahui dari kemampuan sistem kesehatan tersebut dalam menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi negara. Masing masing negara berdinamis untuk menguatkan sistem kesehatan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan baik itu dalam kondisi normal maupun dalam kondisi tidak normal ( bencana dan krisis kesehatan). Penguatan sistem kesehatan merupakan modal utama untuk menciptakan sistem global yang kuat dan resilien.

WHO mengembangkan kerangka kerja sistem kesehatan yang dikenal dengan Six Building Blocks yang terdiri dari 6 pilar yaitu pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, informasi kesehatan, alat kesehatan/vaksin/teknologi , pembiayaan kesehatan serta leadership. Keenam pilar tersebut merupakan suatu kesatuan yang memiliki tujuan antara (intermediate goals) seperti akses, cakupan, mutu dan keamanan kesehatan yang akan menghasilkan outcome seperti peningkatan derajat kesehatan, reponsivitas, perlindungan risiko sosial dan keuangan serta peningkatan efisiensi kesehatan.  Pencapaian kerangka kerja sistem kesehatan Six Building Blocks sudah banyak dikritisi dan dievaluasi oleh peneliti maupun aktivis terkait. Dalam kondisi tidak normal (bencana dan krisis kesehatan), sangat diharapkan kerja sama lintas sektoral dan penguatan kapasitas sektor kesehatan untuk mencapai tujuan akhir dari kerangka kerja sistem kesehatan Six Building Blocks ini. Kerangka kerja sistem kesehatan Six Building Blocks dapat dilihat pada bagan berikut.

Dokumen Sendai Framework atau yang dikenal dengan Kerangka Kerja Sendai juga penting untuk dipahami dalam meningkatkan ketahanan sistem kesehatan. Kerangka Kerja Sendai sebagai acuan kerja dalam aktivitas pengurangan risiko bencana. Kerangka Kerja Sendai disepakati 187 negara dan diresmikan penggunaannya dalam Konferensi Dunia Ketiga PBB di Sendai, Jepang, 8 Maret 2015. Jika disiapkan sejak dini, pada fase pra bencana, aktivitas dalam Kerangka Kerja Sendai mampu mendukung sistem kesehatan saat kondisi tidak normal.

Berdasarkan pengantar diatas, laman ini menampilkan buku dan jurnal terkait dengan kerangka kerja  kerangka kerja sistem kesehatan Six Building Blocks oleh WHO, Buku Kerangka Kerja Sendai dan jurnal sistem kesehatan global lainnya.


[su_tabs active=”3″ mobile=”desktop” class=”.su-tabs { background-color: orange; } .su-tabs > .su-tabs-nav > span { background-color: red; color: aquamarine; } .su-tabs > .su-tabs-nav > span:hover { background-color: gold; color: red; } .su-tabs > .su-tabs-nav > span.su-tabs-current { background-color: deepskyblue; color: white; } .su-tabs > .su-tabs-panes > .su-tabs-pane { background-color: white; color: black; }”] [su_tab title=”Sendai Frame Work” disabled=”no” anchor=”” url=”” target=”blank” class=””]

Buku Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana

Dokumen Sendai Framework atau kerangka kerja Sendai muncul dari komitmen beberapa negara anggota PBB, LSM dan pemangku kebijakan yang konsen terhadap bencana untuk menyuarakan perbaikan dari Kerangka Hyogo yang sebelumnya fokus terhadap respon bencana. Negara-negara tersebut menekankan perlunya menangani Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Disebut sebagai Kerangka Kerja Sendai karena pertemuan dilakukan di Sendai, Jepang pada kegiatan Konferensi Dunia tentang Pengurangan Risiko Bencana Juni 2015.

Bagaimana keterkaitan kerangka kerja sendai dengan sistem kesehatan? Bencana adalah kejadian yang tidak bisa dihindari namun risikonya bisa diminimalkan. Tidak bisa dipungkiri, belajar dari kejadian bencana di berbagai negara, bencana dapat mengganggu sistem kesehatan yang sudah dibangun. Bencana mengakibatkan kerusakan fasilitas kesehatan, kesakitan, kematian, kerugian ekonomi, dan kerusakan lingkungan. Kondisi tersebut akan semakin sangat berbahaya bagi negara dengan kondisi sistem kesehatan yang lemah, pelayanan kesehatan berpotensi kolaps sehingga angka kesakitan dan kematian semakin tinggi.

Kerangka kerja sendai fokus terhadap pengurangan risiko bencana.  Mengantisipasi, merencanakan dan mengurangi risiko bencana sangat penting dilakukan demi melindungi kesejahteraan, kesehatan, dan memperkuat ketahanan masyarakat. Kerangka kerja Sendai menempatkan empat prioritas khusus untuk tindakan yaitu (1) memahami risiko bencana; (2) memperkuat tata Kelola risiko bencana untuk mengelola risiko bencana; (3) berinvestasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketahanan; (4) meningkatkan kesiapsiagaan untuk respon yang efektif untuk “membangun kembali lebih baik” dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi. Kerangka kerja sendai ini merupakan salah satu upaya untuk memperkuat sistem kesehatan dan ketahanan negara dalam  meningkatkan dan memelihara kesehatan pada situasi normal dan situasi tidak normal (bencana dan krisis kesehatan).

[su_button url=”https://drive.google.com/file/d/1I2AA7wsXu3dALJzp3Xdc13SboYWgzNkC/view?usp=sharing” target=”blank” background=”#2d85ef” icon=”icon: book” title=”Buku” id=”Buku”]Download Buku[/su_button]


Pengantar oleh: Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

[/su_tab] [su_tab title=”JURNAL” disabled=”no” anchor=”” url=”” target=”blank” class=””]

Regional Policy for Disaster Risk Management in Developing Countries Within the Sendai Framework: A Systematic Review

Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan membangun ketangguhan terhadap bencana sangat penting dalam konteks pembangunan kesehatan berkerlanjutan. Ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana dapat didifinisikan sebagai bentuk kemampuan sistem kesehatan untuk mengakomodasi semua kebutuhan masyarakat baik melalui upaya kesehatan, kebijakan, fasilitas kesehatan, dan SDM kesehatan.  PRB menjadi prioritas utama dalam Sendai Framework (Kerangka Kerja Sendai) 2015-2030. Artinya dalam 10 tahun ke depan, program pengendalian bencana fokus pada pengembangan program-program pengurangan risiko bencana. Artikel penelitian ini oleh Surianto, mengkaji mengapa upaya PRB yang dilakukan oleh pemerintah daerah seringkali gagal meningkatkan respons bencana di masa depan. Disebutkan bahwa kesenjangan dan tantangan utama dalam PRB adalah lemahnya koordinasi dan kerja sama antar sektor terkait, kurangnya keterampilan dalam penilaian kerugian dan kebutuhan pasca bencana dan kurangnya agenda kebutuhan strategis. Penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas mereka serta meningkatkan ketahanan masyarakat melalui tindakan yang relevan dengan empat tindakan prioritas di Sendai Framework.

[su_button url=”https://drive.google.com/file/d/1L-4Sm08t7A3z-NwJyEjKN8_79bS0AYk2/view?usp=sharing” target=”blank” background=”#ef8d2d” icon=”icon: file-o” title=”Jurnal” id=”Jurnal”] Download Jurnal[/su_button]


Pengantar oleh Happy R Pangaribuan

Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK FK-KMK UGM

[/su_tab] [su_tab title=”WHO” disabled=”no” anchor=”” url=”” target=”blank” class=””]

[su_image_carousel source=”media: 125″ crop=”none” arrows=”no” dots=”no” link=”lightbox” target=”self”]

[/su_tab][/su_tabs]