Singapura Anggap Covid-19 sebagai Flu Biasa, Ini Strateginya

Harianjogja.com, JAKARTA РPemerintah Singapura menyatakan akan menganggap Covid-19 seperti endemik dan memulai hidup new normal.

Mereka mencontohkan kasus endemik tersebut semisal influenza, penyakit tangan, kaki dan mulut, atau cacar air. Alasannya, karena virus itu tidak akan pernah hilang, dan akan terus bermutasi, sehingga perlu menyesuaikan diri hidup bersama Covid-19.

Hal ini diungkapkan oleh tiga wakil ketua gugus tugas multi kementerian Singapura yang tengah mengodok transisi ke hidup normal baru, pada 24 Juni lalu.

Saat ini, mereka sedang menyusun peta jalan untuk transisi ke normal baru tersebut.

Rencana itu, menurut mereka akan menjadi prioritas dalam beberapa bulan mendatang, dengan sejumlah rencana disiapkan seperti berikut ini dilansir dari Strait Times:

1. Percepat Vaksinasi

Singapura akan mempercepat vaksinasi. Pada 31 Mei, Perdana Menteri mengatakan mereka menargetkan dua pertiga dari populasi setidaknya sudah disuntik vaksin dosis pertama pada awal Juli. Selanjutnya, dua pertiga dari populasi sudah divaksinasi penuh dengan dua dosis pada Hari Nasional, jika persediaan memungkinkan.

Saat ini pemerintah tengah mempercepat pengiriman vaksin dan prosesnya.

Masalah vaksin menjadi prioritas utama, karena dianggap sangat efektif dalam mengurangi risiko infeksi dan juga penularan. Bahkan jika seseorang terinfeksi, gejala Covid-19 tidak akan terlalu parah.

Mereka mencontohkan pengalaman Israel yang menunjukkan tingkat infeksi di antara orang-orang yang divaksinasi 30 kali lebih rendah daripada yang tidak divaksin. Tingkat rawat inap untuk yang divaksinasi juga 10 kali lebih rendah.

Dengan pengalaman Israel yang sudah memvaksin 60 persen populasinya, dan menjadi vaksinasi tertinggi di dunia saat ini, dianggap relevan dengan kemampuannya menanggulangi covid-19. Israel sendiri tercatat sebagai salah satu negara yang sudah bebas masker.

Mereka juga mempertimbangkan suntik vaksin booster di masa mendatang jika diperlukan. Dan merencanakan program vaksinasi tahunan yang komprehensif.

2. Pengadaan Tes Covid yang lebih mudah

Tes covid-19 dan pengawasan akan tetap diperlukan, tetapi fokusnya akan berbeda. Tes covid-19 di perbatasan akan tetap berlaku untuk mengidentifikasi siapapun yang membawa virus, terutama varian yang menjadi perhatian seperti varian delta.

Di dalam negeri, jumlah tes sebagai tracing dan penekanan penularan akan berkurang, tapi, acara, kegiatan sosial dan perjalanan ke luar negeri harus dipastikan aman, untuk mengurangi risiko penularan, terutama bagi mereka yang rentan terhadap infeksi.

Singapura juga tidak akan lagi mengandalkan tes reaksi berantai polimerase (PCR), karena dianggp prosesnya tidak nyaman dan hasilnya membutuhkan waktu berjam-jam.

Karena itu, mereka berencana membuat tes Covid-19 cepat dan mudah. Saat ini, negeri Singa Putih itu telah meluncurkan tes antigen cepat, yang bisa dilakukan mandiri, atau bisa dilakukan di poliklinik, klinik swasta, dan apotek.

Bahkan mereka juga akan memakai alat tes yang lebih cepat, seperti breathalyser, yang hasilnya hanya butuh waktu sekitar satu hingga dua menit. Tanpa swab.

Alat tes cepat ini, bakal diterapkan di bandara, pelabuhan laut, gedung perkantoran, mal, rumah sakit, dan lembaga pendidikan untuk mengetes staf dan pengunjung.

Bahkan, pemerintah juga akan melakukan pengujian pada air limbah di asrama, hostel, atau perumahan, untuk mengetahui apakah ada infeksi tersembunyi.

3. Meningkatkan Layanan Perawatan Medis

Singapura akan meningkatkan layanan perawatan medis dari yang sudah ada saat ini. Mereka tercatat telah memiliki serangkaian perawatan yang efektif, yang dinilai sukses dan mampu menekan angka kematian Covid-19 di Singapura termasuk yang terendah di dunia.

Kementerian Kesehatan akan terus memastikan negaranya memiliki persediaan obat-obatan yang memadai, dan peneliti medis akan aktif berpartisipasi dalam pengembangan perawatan baru.

4. New Normal yang diharapkan

Ada target 5 norma baru yang diharapkan Singapura dengan memulai new normal ini.

Pertama, orang yang terinfeksi bisa isolasi mandiri di rumah, karena sudah suntik vaksin, sehingga gejalanya diharapkan akan lebih ringan. Dengan terpenuhinya vaksinasi untuk herd immunity, maka penularan juga diharapkan akan rendah.

Kedua, tidak perlu melakukan tracing besar-besaran dan mengkarantina setiap orang terinfeksi. Mereka dapat melakukan tes mandiri secara teratur menggunakan berbagai tes yang ditawarkan. Kalau positif, maka barulah dilanjutkan dengan tes PCR dan kemudian disarankan mengisolasi diri.

Ketiga, tidak ada lagi penghitungan jumlah jumlah infeksi Covid-19 setiap hari, dan akan fokus pada berapa banyak yang sakit parah, berapa banyak di unit perawatan intensif, berapa banyak yang perlu diintubasi untuk oksigen. Layaknya mereka menanggapi kasus influenza saat ini.

Keempat, pemerintah juga secara progresif akan melonggarkan aturan dan membolehkan pertemuan dan acara-acara besar, seperti Parade Hari Nasional atau Tahun Baru. Dengan langkah ini, maka para pelaku usaha akan lebih terjamin kegiatan operasionalnya.

Kelima, perjalanan dari dan ke negara lain akan dibuka. Setidaknya untuk negara-negara yang juga telah mengendalikan virus dan mengubahnya menjadi norma endemik. Untuk itu, mereka akan menggunakan sertifikat vaksinasi. Wisatawan, terutama yang sudah divaksinasi, dapat melakukan tes sendiri sebelum keberangkatan dan dibebaskan dari karantina dengan hasil tes negatif pada saat kedatangan.

Sumber : bisnis.com